Sholat atas mayyit pertama kali disyariatkan di Madinah asy Syarifah pada tahun yang pertama dari hijrah Nabi Muhammad Saw. Diwaktu itu Nabi Muhammad Saw melaksanakan sholat Janazah di atas kuburannya Barro bin Marur, dan shohabat Nabi yang meninggal di Makkah Musyarrofah sebelum Hijroh Nabi ke Madinah dikubur tanpa disholati termasuk Istri Nabi sendiri yaitu Siti Khodijah.
Sholat Mayyit hukumnya fardhu kifayah selain mayyit yang mati syahid dan bayi yang meninggal keguguran. Untuk bayi keguguran yang sebelum meninggal masih diketahui hidupnya, maka hukumnya tetap fardhu kifayah.
Hal-hal yang berkaitan dengan mensholati mayyit yang perlu diperhatikan meliputi: syarat, rukun, teknis pelaksanaan, serta hal-hal yang disunnahkan ketika mensholati mayyit.
Mayyit telah selesai dimandikan dan suci dari najis baik tubuh, kafan atau tempatnya. apabila setelah dimandikan dan belum disholati keluar najis dari tubuh mayyit, maka harus dihilangkan terlebih dahulu. Jika keluarnya setelah sholat, maka hukum menghilangkannya adalah sunnah. Namun menurut Ar-Romli hukumnya tetap wajib, kecuali najis tersebut terus-menerus keluar, maka mayit tetap disholati sebagaimana sholatnya orang hidup yang menderita penyakit tidak mampu menahan kencing (beser). Dan anggota tubuh yang terdapat najis tersebut harus ditutupi lalu mayyit segera di sholati.
Orang yang mensholati (musholli) telah memenuhi syarat-syarat sahnya melaksanakan sholat.
Posisi mayyit yang hadir harus di depan musholi, walaupun sudah dalam qubur.
Jarak antara keduanya (mayyit dan musholi ) tidak melebihi 300 dziro (kurang lebih 114 m), jika sholat dilaksakan di luar masjid.
Tidak ada penghalang antara keduanya. Dalam arti seandainya mayyit berada dalam keranda yng ditutup, keranda tersebut tidak boleh dipaku, kecuali jika peleksanaan sholatnya dilakukan di masjid.
Musholli hadir (berada didekat mayit) jika mayit yang disholati tidak ghoib.
Rukun-Rukun Sholat Mayyit
Niat.
Dalam niat diwajibkan untuk menyengaja (Qoshdu), dan niat fardu (fardiyyah), walaupun tidak mengucapkan Kifayah dan tidak disyaratkan menentukan (tayin) pada mayyit yang hadir, tapi yang wajib adalah batas minimum yang dapat membedakan saja, seperti: أُصَلِّيْ الْفَرْضَ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ
Akan tetapi disunnahkan menyandarkan niat (idhofah) pada Alloh, menyebutkan menghadap qiblat, dan menyebutkan hitungan takbir, seperti:
أُصَلِّيْ عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ \ هَذِهِ الْمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلّهِ تَعَالَى
apabila mayyit di-ta’yin tapi ternyata salah, maka sholatnya Batal, kecuali disertai dengan Isyaroh, seperti mengucapkan:
أُصَلِّيْ عَلَى زَيْدٍ هَذَا فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةْ لِلَّهِ تَعَالَىtapi ternyata mayyitnya bukan Zaid melainkan Umar misalnya, maka sholatnya tetap sah.
Sedangkan untuk mayyit ghoib dalam masalah menentukan namanya dikalangan Ulama masih terdapat khilaf.
Berdiri bagi yang mampu
Maka bagi orang yang tidak mampu berdiri maka dilakukan dengan duduk. Apabila dengan duduk tidak mampu maka dengan tidur miring, (dalam tidur miring bila masih masih mampu tidur miring ke sebelah kanan maka tidak boleh tidur miring ke sebelah kiri). Bila dengan tidur miring juga tidak mampu maka dengan terlentang. Kalau masih juga tidak mampu maka menjalankan rukun-rukun sholat dengan isyaroh dengan kepalanya. Kalau masih tidak mampu juga maka menjalankan rukun-rukun sholat dengan hatinya seperti halnya pembahasan dalkam bab sholat. .
Membaca takbir empat kali termasuk takbirotul ihrom.
Seseorang yang menambah takbirnya menjadi lima atau enam kali baik sengaja atau karena lupa, maka menurut qoul al-Ashoh sholatnya tetap sah asalkan dengan penambahan tadi tidak ber-itikad bahwa sholatnya batal walaupun penambahan takbir tadi diniati termasuk takbir yang menjadi rukun.. Apabila penambahan ini dilakukan oleh Imam, maka bagi mamum disunnahkan tidak ikut, bahkan mamum boleh salam sendiri, akan tetapi yang lebih utama menunggu imam dan melakukan salam bersama imam.
Membaca surat Al-fatihah atau penggantinya bila tidak mampu.
Menurut qoul al-Mutamad dalam membaca al-Fatihah tidak diwajibkan setelah takbir yang pertama (Takbirotul Ihrom), tetapi boleh dilakukan setelah takbir lainnya walaupun terjadi kekosongan pada salah satu takbir (yakni takbir yang pertama) dan terjadi penggabungan dua rukun dalam satu takbir (yaitu berkumpulnya pembacaan surat al-Fatihah dan pembacaan sholawat atas Nabi SAW pada takbir yang ke dua), hanya saja yang lebih utama dilakukan setelah takbir yang pertama.
Membaca sholawat (wajib setelah takbir yang kedua). Seperti:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Mendo’akan mayyit secara khusus dengan do’a ukhrowi (wajib setelah takbir yang ke tiga). Seperti:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ \ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ \ اَللَّهُمَّ الْطُفْ بِهِ
Dan tidak cukup dengan do’a dun-yawi kecuali do’a dun-yawi yang tujuannya untuk keselamatan mayyit di akherat, seperti:
اَللَّهُمَّ اقْضِ دَيْنَهُ, dan juga tidak cukup dengan do’a yang umum seperti dengan do’a untuk mu’minin mu’minat walaupun secara tidak langsung sudah tercakup di dalamnya.
Salam pertama (wajib setelah takbir yang ke 4).
Catatan:
Alasan mengapa pembacaan al-Fatihah tidak ditentukan setelah takbir yang pertama sedangkan pembacaan Sholawat dan mendoakan Mayyit tertentu pada takbir kedua dan ketiga, karena tujuan dari mensholati mayyit adalah meminta pertolongan kepada Allah untuk Mayyit, dan tujuan tersebut sudah tercapai dengan mendoakannya sedangkan bacaan Sholawat adalah sebagai wasilah agar diterimanya doa tersebut, oleh karenanya Ulama Salaf dan Kholaf menentukan keduanya.
Kesunnahan- Kesunnahan dalam Sholat Mayyit
Posisi kepala mayyit laki-laki berada disebelah selatan, sedangakan posisi imam atau orang yang sholat sendirian melurusi pada pundak (bahu) mayyit. bila mayyit perempuan maka kepala disebelah utara, sementara posisi imam atau orang yang sholat sendirian sejajar dengan pantat mayyit.
Mengangkat kedua tangan sampai sebatas bahu lalu meletakkan di bawah dada pada setiap takbir.
Mamandang ke arah mayyit namun menurut sebagian Ulama kesunnahannya teap memandang tempat sujud sebagaimana sholat yang lain.
Membaca taawwudz sebelum al-Fatihah.
melirihkan bacaan selain takbir ( al-Fatihah, sholawat, mendoa-kan mayyit, dan taawwudz).
Tidak membaca do’a iftitah dan surat atau ayat Al-quran kecuali ketika mensholati mayyit ghoib atau sholat mayyit di atas quburan. Namun jika seorang mamum dalam membaca al-Fatihah mandahului imam, maka dari pada diam lebih baik membaca ayat-ayat Al-quran.
Meletakkan bacaan al-Fatihah setelah takbir yang pertama.
Membaca Hamdalah sebelum membaca sholawat
Membaca Sholawat kepada keluarga Rosululloh SAW dan meyertakan do’a salam . Seperti ;
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كًََمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
Mendo’akan orang islam setelah membaca sholawat seperti :
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Setelah takbir yang keempat dan sebelum salam membaca do’a :
اَللَّهُمَّ لاَنَحْرِمْنَا أَجْرَهُ(هَا) , وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ (هَا), وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ (هَا)
Ketika salam sunnah menambah bacaan: وَبَرَكَاتُهُ .
contoh: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ .
Salam yang kedua .
Mensholati mayyit di masjid dan minimal 3 shof (baris) sedangkan minimal yang bisa dibentuk 3 shof adalah 6 orang ditambah satu imam, sabda nabi SAW.
عَنْ مَالِكِ بْنِ هُبَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ فَيُصَلَّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ يُبَلِّغُوْنَ أَنْ َيَكُوْنُوْا ثَلَاثَةَ صُفُوْفٍ إِلاََّّ غُُفِرَ لَهُ (رواه الخمسة إلا النسائي)
Mayyit tidak diangkat sebelum disholati.
Catatan :
Bagi orang yang jauh dari tempat mayyit diperbolehkan melakukan sholat ghoib. Yang dimaksud ghoib disini yaitu mayyit tidak berada dalam satu kampung dengan musholi, sedangkan mayyit yang masih satu kampung walaupun tidak berada di sisinya masih dianggap mayyit hadir, Namun menurut pendapat yang unggul seperti yang dinukil oleh imam Syibromulasi dari imam Ibnu Qosim, yang diperhitungkan adalah masaqohnya (kepayahan) dan tidaknya, baik sekampung atau tidak.
Pelaksanaan Sholat Mayyit
Niat
a. Untuk mayyit laki-laki yang hadir:
أُصَلِّي عَلَى فُلاَنٍ (....) أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلّهِ تَعَالَى
Atau:
أُصَلِّي عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Atau:
أُُصَلِّيْ عَلَى مَنْ حَضَرَ مِنْ أَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Bagi ma’mum, boleh memakai shighot:
أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ اْلإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
b. Untuk perempuan yang hadir:
أُصَلِّيْ عَلَى فُلاَنَةٍ (....) أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Atau:
أُصَلِّيْ عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Atau:
أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ حَضَرَتْ مِنْ أَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Bagi ma’mum, boleh memakai sighot:
أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهَا اْلإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
c. Untuk mayyit ghoib:
أُصَلِّيْ عَلَى فُلاَنٍ (....) أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَََّّهِ تَعَالَى
Atau:
أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ تَصِحُّ الصَّلاَةُ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Bagi ma’mum, boleh memakai sighot:
أُصَلِّي عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ اْلإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضًا / فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Takbirotul ihrom, kemudian membaca surat Al-fatihah.
Takbir yang kedua, kemudian membaca sholawat
Yang pendek:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Atau yang panjang:
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كًََمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
Takbir yang ketiga, kemudian membaca do’a.
Bila mayit laki-laki dewasa.
Yang pendek:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ .
Atau yang panjang:
اَللَّهُمَّ هَذَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدَيْكَ خَرَجَ مِنْ رَوْحِ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا وَمَحْبُوْبُهُ وَأَحِبَّائُهُ فِيْهَا إِلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَمَا هُوَ لاَقِيْهِ كاَََََنَ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ . اَللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهِ وَأَصْبَحَ فَقٍيْرًا إِلَى رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ وَقَدْ جِئْنًَاكَ رَاغِبِيْنَ إِلَيْكَ شُفَعَاءَ لَهُ . اَللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ إِحْسَانِهِ وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ رِضَاكَ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِهِ وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَجَافِ اْلأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ اْلأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ حَتىَّ تَبْعَثَهُ آَمِنًاَ إِِلََى جَنَّتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَآ أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
Bila mayit perempuan dewasa
Yang pendek
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لهَاَ وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا .
Atau yang panjang
اَللَّهُمَّ هَذِهِ أَمَتُكَ وَبِنْتُ أَمَتِكَ خَرَجَتْ مِنْ رَوْحِ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا وَمَحْبُوْبُهَا وَأَحِبَّائُهَا فِيْهَا إِلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَمَا هِيَ لاَقِيَتُهُ كَاَنَتْ تَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهَا . اَللَّهُمَّ إِنَّهَا نَزَلَتْ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهَا وَأَصْبَحَتْ فَقِيْرَةً إِلَى رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهَا وَقَدْ جِئْنَاكَ رَاغِبِيْنَ إِلَيْكَ شُفَعَاءَ لَهَا . اَللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ مُحْسِنَةً فَزِدْ فِيْ إِحْسَانِهَا وَإِنْ كَانَتْ مُسِيْئَةً فَتَجَاوَزْ عَنْهَا وَلَقِّهَا بِرَحْمَتِكَ رِضَاكَ وَقِهَا فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِهِ وَافْسَحْ لَهَا فِيْ قَبْرِهَا وَجَافِ اْلأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهَا وَلَقِّهَا بِرَحْمَتِكَ اْلأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ حَتىَّ تَبْعَثَهَا آمِنَةً إِلَى جَنَّتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
Bila mayit laki- laki masih kecil:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَدُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِنِهِمَا وَأَفْرِغِِ الصَّبْرَ عَلَى قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلاَ تَحْرِمْهُمَا أَجْرَهُ .
Bila mayit perempuan masih kecil:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهاَ فَرَطًا لِأَبَوَيْهَا وَسَلَفًا وَدُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهَا مَوَازِنِهِمَا وَأَفْرِغِِ الصَّبْرَ عَلَى قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهَا وَلاَ تَحْرِمْهُمَا أَجْرَهَا.
Takbir yang keempat, kemudian sunnah membaca do’a:
Bila mayit laki-laki:
اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
Bila mayit perempuan:
اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا
Salam :
تُه اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا
Kemudian setelah salam, imam memimpin bacaan tahlil yang disertai persaksian terhadap mayyit, seperti di bawah ini:
اَلْفَاتِحَةْ 1×
اَلْإِخْلاَصْ 11×
اَلْفَلَقْ 1×
اَلنَّاسْ 1×
اَلْفَاتِحَةْ 1 ×
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ 11×
دُعَاءْ: - اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ إِلَى هَذَاالْمَيِّتِ\ هَذَِهِ الْمَيِّتَةِ
- اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ\ لَهَا وَارْحَمْهُ \ هَا وَعَافِهِ \ هَا وَاعْفُ عَنْهُ \ هَا
- اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ . وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
- أُشْهِدُكُمْ عَلَى أَنَّ هًَذَاالْمَيِّتَ \ هَذِهِ الْمَيِّتَةَ خَيْرٌ.........3 ×
- اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ شَهَادَتَنَا 3×
- وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ . وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . اَلْفَاتِحَةْ
Ma’mum Masbuq Dalam Jama’ah Sholat Mayyit
Apabila ma’mum menemukan Imam sudah melakukan takbir satu kali atau lebih, maka sebaiknya bagi ma’mum tersebut langsung takbir saja (takbirotul ihrom) dan tidak usah menunggu Imam melakukan takbir berikutnya, kemudian ma’mum membaca Fatihah. Apabila waktunya tidak cukup untuk membaca Fatihah karena Imam sudah melakukan takbir berikutnya, maka ma’mum langsung ikut takbir saja bersama Imam. Dan kewajiban membaca Fatihahnya menjadi gugur karena sudah ditanggung oleh Imam. Ketika Imam sudah salam maka wajib bagi ma’mum melanjutkan sisa sholatnya (meneruskan takbir sesuai dengan ketertinggalannya besertaan dzikirnya) sampai selesai sesuai urutan sholat janazah.
Komentar
Posting Komentar